TERNAK BELUT SIDAT CACING DAN PUPUK KASCING



                           TERNAK BELUT SIDAT CACING DAN PUPUK KASCING

    TERNAK BELUT
    Belut sawah Monopterus Albus/ Fluta alba waktu waktu ini baru jadi booming, di ternakan di mana mana. Daya tarik harga tinggi dan stabil membius keinginan untuk mencobanya. Meski dengan keilmuan yang masih kira kira menurut kreasi sendiri sendiri.

    Ada yang berhasil tapi banyak juga yang berguguran di tengah jalan, sebab belutnya tidak berkembang, kuntet atau mengalami kanibalisme karena belut termasuk ikan Carnivora, pemakan ikan lain yang lebih kecil termasuk belut berukuran kecil. Sehingga tebar bibit 15 kg hanya bisa panen 5 kg saja.

    Termasuk ikan Nocturnal, aktiv di malam hari dan bersembunyi di siang hari, karena punya Labbyrint yang berarti bisa mengambil O2 dari air dan dari udara bebas, jadi agak enak nanti kita buat konstruksi kolamnya.

    Sifat Hemophrodits mengakibatkan kesulitan sebagian rekan peternak untukmembedakan Gonad jantan dan betina. Sewaktu masih muda belut berkelamin betina dengan panjang 20-30 cm selalu berkelamin betina, namun setelah tua panjang tubuh lebih dari 35 cm berkelamin jantan.

    Tanda tanda sekunder tidak terlalu Nampak nyata ,biasanya hanya dengan melihat Gonad , belut jantan setelah tua gonad telah susut dan mengecil, dengan cirri cirri tubuh ukuran kepala dan tengkuk besar, tubuh berwarna abu abu bening, pada sisi perit kasar dan suram.

    Sedang pada betina belut muda tapi sudah dewasa gonad/kelamin pada perut kelihatan besar berisi sel sel ovum telur. Dengan cirri cirri fisik , kepala dan tengkuk kecil, warna hijau muda pada bagian punggung dan putih kuning pada bagian perut, sisi perut bening dan halus, bila sudah mengandung terlihat butiran butiran telurnya.

    Konstruksi jenis kolam
    Bisa kotak persegi atau setengah lingkaran drum atau sesuaikan saja dengan lahan yang di punyai, ini bukan ketepatan presisi yang di tuntut tapi luasan kolam yang lebih urgent.

    Drum yang di belah dua dapat di pakai atau kolam terpal atau kolam semen atau kolam bekas ikan lele bisa di pakai. Kapasitas populasi per meter persegi untuk kolam pembibitan adalah 2 jantan  6 betina, tinggal menghitung luas kolam untuk mengetahui berapa jumlah bibit Indukan yang mesti dimasukan.

    Sedang untuk kolam pembesaran 1 meter persegi kepadatan populasi tebar 1- 1,5 kg dengan jumlah bibit belut per kg adalah 100 – 120 ekor. Dengan asumsi masa pemeliharaan 4 bulan 1 kg tebar bibit akan memanen belut dewasa 5-7 kg dengan pakan cacing murni yang di habiskan 2,5 – 5 kg.



    Media isi kolam
    Kegagalan dalam beternak belut salah satu sebab adalah media hidup. Bukanya tidak cocok, tapi media yang belum matang, peternak kesusu menebar bibit belut, akhirnya mati semua karena media hidup masih mengeluarkan energy panas gas metana.

    Media yang bisa di gunakan batang pisang cacah, lumpur atau tanah topsoil, jerami, baglog jamur bekas, kotoran ayam atau sapi. Yang penting komposisi harus tepat dan tidak harus media itu di pakai semua, lihat saja mana bahan media yang mudah di dapat, itu yang di pakai.

    Komposisi media :
    Lumpur 20-30%
    Batang pisang 20 %
    Kotoran 40 %
    Jerami 20 %

    tapi ini bukan komposisi paten yang harus seperti itu, karena jika ada baglog bekas jamur porsinya bisa 70 % sendiri baglog bekas jamur. Yang terpenting adalah proses prosedur pengolahan media itu yang harus tepat. Dengan langkah langkah sebagai berikut :

    1. Masukan jerami 10 % pada bagian dasar
    2. Kotoran masukan 20 %
    3. Batang pisang 10 %
    4. Lumpur 10 %
    5. Masukan lagi jerami 10 % ke dua
    6. Kotoran 20%
    7. Lumpur 10 %, lalu masukkan air hingga media basah semua sampai ke dasar kolam dan di atas media permukaan masih ada sedikit air, biarkan selama 1 minggu….setelah itu, anda masuk ke kolam ,injak injak hingga merata ke seluruh permukaan kolam dengan tujuan agar media tercampur rata atau bisa juga di balik balik…tapi agak ribet ini. Lalu setelah di rasa cukup , ratakan permukaan media
    8. Masukkan cacahan batang pisang sebar merata di seluruh permukaan media lalu masukan air kembali hingga nyemek nyemek di permukaan atas media.Kalau bisa usahakan air selalu mengalir pelan ke kolam tapi harus di buat lubang pembuangan air…seperti ini hingga minggu ke 3. Hari 1 awalminggu ke 4 masukan tanaman enceng gondok di permukaan media menutupi 2/3 luas permukaan media. Setelah genap 30 hari dan proses fermentasi media sempurna dengan tanda media bau lumpur dan saat tangan di masukkan sudah tidak mersakan panas… baru bibit di tebar. Iya…tinggi media 50 cm.

    Jenis pakan
    Cacing, semua jenis cacing bisa, irisan keong, rebusan katak, ampas tahu, rebusan daging ayam atau semua unsure protein hewani bisa menjadi bahan pakan belut, termasuk telur gagal tetas, setelah di rebus remat remat jadikan pakan belut.


    Pembibitan
    Kepadatan tebar kolam pembibitan 2 jantan 6 betina untuk kolan seluas 1m2. Dengan panjang bibit jantan minimal 35 cm betina 25 cm, dengan syarat media seperti di atas dan jatah makan juga yang telah di jelaskan.

    Terjadinya perkawinan di tandai dengan adanya busa busa di atas lubang sarang, setelah 10 hari busa busa putih tersebut akan hilang, tandanya perkawinan telah selesai. Dalam suhu 28 – 30 C, telur belut akan menetas dalam waktu 8-10 hari.

    Usia 5-8 hari setelah menetas, anakkan belut harus segera di ambil masukan dalam kolam tampungan. Dalam satu lubang sarang akan di panen 100-200 ekor bibit belut kecil, banyak sedikit hasil panen terggantung jumlah bibit yang di jadikan indukan.



    Tebar bibit
    Hati hati dengan pemilihan asal atau cara bibit belut di tangkap. Sistem tangkap belut biasanya dengan di pancing, di setrum. Bibit belut asal di setrum dan di pancing tidak bisa di jadikan bibit, karena belut telah mengalami stress dan biasanya terjadi perlukaan di tubuh belut, ini tidak boleh di tebar karena kemungkinan besar belut akan mati.

    Asal bibit terbaik adalah hasil tangkapan belut menggunakan jebakan bubu, wuwu, telik, ini yang paling menjanjikan untuk di jadikan bibit belut, karena belut tidak stress dan tidak luka, sehingga pertumbuhan tidak bakal terhambat

    Jika bibit belut di dapat mendatangkan dari luar kota,ada perlakuaan khusus, bibit belut dan air bawaan dari bibit taruh pada kolam tampungan  sementara lalu beri air segar 2 kali lipat jumlah air bawaan, diamkan sehari semalam. Hari kedua beri tambahan Probiotik Top 20 ml/liter air dan beri air rebusan daun sirih 1 liter, biarkan selama 1 jam mulai jam 7 pagi hingga jam 8 lalu tambah air segar baru sebanyak air pada tampungan sementara bibit, hingga sehari semalam.

     Perlakuan ini bertujuan agar bibit baru cepat melakukan adaptasi pada lingkungan baru dan jika bibit belut membawa bibit penyakit, biasanya Virus Aeromonas seperti penyakit pada ikan lele segera mati dan bibit belut lemah biar sekalia mati saja daripada nanti pertumbuhan juga tidak bisa cepat.

     Pagi ke esok harinya belut mulai di tebar ke kolam pembesaran termasuk air yang buat merendam masukan juga dalam kolam pembesaran. Amati reaksi dari bibit belut, jika 15 menit setelah tebar belut sudah masuk ke dalam media berarti media cocok.


    Pembesaran
    Waktu yang di perlukan dari tebar bibit hingga panen adalah 4 bulan. Padat tebar 1-1,5 kg/m2, jumlah bibit 1 kg adalah 100-120 ekor. Pemberian pakan mulai bakda Magrib dan jam 12 malam, dengan jenis pakan yang saya terangkan di atas. Kebutuhan pakan 1 kg bibit belut  hingga panen 3,5 – 5 kg, pakan harian sesuaikan saja dengan kebiasaan belut dan kesanggupan belut menghabiskan asupan pakan yang di berikan, jika di pagi hari pakan masih sisa, berarti pemberian pakan berlebihan, tinggal di kurangi. Untuk 1 kg bibit belut asumsi panen 5-7 kg.

    Pembesaran belut media air 100 %
    Media isi kolam 100 % air tawar, tanpa tambahan apapun, hanya dalam kolam di beri potongan pralon ukuran 3 dim yang di potong potong sesuaikan dengan panjang dan lebar kolam. Pralon ini di susun bertingkat selang seling dari dasar kolam hingga 5 cm di bawah permukaan air kolam, fungsinya sebagai tempat bersembunyi dan menghindari sinar matahari.

    Manajemen pemeliharaan sama dengan pelihara media normal, 15 hari sekali air kolam di ganti 50% dengan air yang baru. Jenis pakan pada kolam air yang terbaik adalah pakan hidup missal ikan ikan kecil, cacing hidup. Jika memberi pakan rebusan daging ayam/tikus, atau irisan keong, taruh dalam wadah beri tali, baru masukkan ke kolam.

    Kalau ingin mengangkat wadah pakan tenggelam ini tinggal menarik talinya, tapi yang perlu di pahami, pemberian pakan tidak bergerak/mati , porsi pemberian di buat kurang jangan berlebihan. Sehingga tidak ada pakan sisa di dasar kolam yang merupakan sumber cemaran air kolam dan sumber dari penyakit yang bisa menyerang kesehatan belut.

    Padat tebar, lama pemeliharaan sama dengan pemeliharaan normal, yang harus benar benar di perhatikan adalah kualitas air kolam. Keunggulan pemeliharaan system ini, pada fisik belut terlihat cerah bersih, sehingga punya nilai jual lebih di banding hasil dari kolam normal.

    Sebetulnya padat tebar bisa di buat hingga 5 kg/1m2, tapi jika baru tahap uji coba ,padat tebar 1,5kg/m2 sudah cukup baik, sambil mempelajari perilaku belut di media air 100% dan yang tidak boleh di lupakan persoalan dengan penyakit.

    Penyakit yang biasa menyerang adalah penyakit Bercak Merah, kemungkinan karena virus aeromonas yang dapat di atasi dengan Probiotik Top yang di kombinasikan dengan rebusan air daun sirih. Lebih pas lagi jika belut yang di pelihara adalah belut rawa Monopterus sp, maka proses adaptasi lebih mudah lagi karena belut ini sudah terbiasa hidup di media air.






    Ternak Sidat

    Sidat bentuk tubuh hampir sama dengan belut, bedanya pada sidat cuping telinga tumbuh lebih besar seperti sirip depan pada ikan. Disamping belut hanya bisa hidup di air tawar sedang sidat bisa hidup di air laut dan air tawar. Sifat khusus pada sidat, selalu berpindah migrasi ke laut saat berpijah atau kawin dan berlahan lahan kembali ke pinggiran sungai di perairan tawar saat tumbuh dan berkembang menjadi dewasa.Jadi, ketika dewasa lebih adaptif dengan air tawar, tapi waktu kecil sangat adaptif dengan air asin.

    Selama ini ada ada 2 jenis sidat yang berkembang di perairan Indonesia, yaitu Anguilla Bicolor dan Anguilla Mauritania.

    Anguilla Bicolor, biasa di sebut freshwater eel, warna tubuhnya hitam kekuningan dan bagian punggung berwarna gelap/hitam coklat mirip belut sawah.

    Anguilla Mauritania, sidat atau moa kembang, warnanya juga 2 macam. Pada tubuh bagian punggung gelap hitam hijau tua, dan bagian perut warnanya putih keruh agak pucat.

    Metode pemeliharaan sama persis dengan pemeliharaan belut system media air 100%. Kedua jenis sidat dapat diternakan, dengan waktu 4-5 bulan, bobot per ekor bisa 0,7- 0,9 kg.

    Kiat jitu ternak sidat :
    1. Gunakan bibit hasil dari perangkap atau di jarring, jangan gunakan bibit asal setrum karena tidak bisa maksimal pertumbuhannya, padat tebar 20-30 ekor/m2 atau bobot tubuh 2-3 ons/ekor.
    2. Dalam kolam beri rangkaian pralon seperti pada pemeliharaan belut, ikuti panjang dan lebar kolam, bisa di beri jarak tiap 1 meter beri rangkaian pralon.
    3. Beri naungan sebagian kolam pembesaran, karena sidat suka dengan tempat yang gelap dan alergi dengan sinar matahari.
    4. Biasakan sidat memakan pellet buatan pabrik, tapi tentu saja setelah di lakukan perlakuaan khusus. Pellet pabrik tumbuk menjadi tepung lalu tambahkan cacing/ tepung ikan/minyak ikan, lalu beri air panas aduk, cetak bentuk pellet lagi lalu oven hingga kering baru kasihkan ke sidat. Ini berlangsung hingga sidat mau makan pellet pabrik ,selama 7 hari hingga sidat senang memakan pellet.
    5. Perggantian air kolam sebanyak 50% dari volume kolam setiap 1 bulan sekali/ 15 hari sekali.
    6. Lakukan penyiponan kotoran dan sisa pakan dari dasar kolam 15 hari sekali.
    7. Sortir besar kecil ikan sidat lalu pisahkan tiap 30 hari sekali
    Semoga sukses………






    Ternak Cacing Lumbricus Rubellus dan Pupuk Kascing

    Saya buat intergratif seperti ini biar anda, ternak cacing untuk pakan sidat dan belut, sebagai pakan terbaik, cepat memacu pertumbuhan, sedang kascing nya bisa buat pupuk organic atau di jadiin media ternak belut.

    Media usahakan 100% kotoran sapi atau 50% kotoran ayam : 50% kotoran sapi,jangan kotoran kambing sebab terlalu keras untuk di uraikan. Sebelumdi pakai media harus di matangkan atau di komposkan terlebih dahulu.

    Pembuatan media :
    Hamparkan kotoran sapi atau ayam atau campuran ke duanya,aduk aduk merata, bio stater bisa pake em4 atau buat mol mikro organism local. Ambil besek bagian dalam beri daun bamboo  lalu beri nasi matang merata, letakkan dalam suhu ruangan selama 7 hari atau setelah bentuk nasi sudah mencair berarti mol sudah jadi + mol keong : ambil keong buang cangkang, lembutkan daging keong. 1 kg daging keong beri air 3-5 liter air segar + gula 0,25 kg, peram 7 hari .

    Bahan yang mau di jadikan media siram merata, dengan kadar basah jika bahan ini dikepas tinggal menetes air sedikit ,jangan seperti bubur itu terlalu basah. Bahan yang telah di basahi masukan dalam plastic, drum atau di hamparkan di lantai semen lalu di tutup terpal selama 7 hari.

    Bahan sudah jadi jika warna berubah kehitaman, sudah tidak mengeluarkan energy panas yang tak terasa pada tangan saat di masukan dalam media. Bahan jadi ini bongkar ,angin anginkan selama 3-5 hari baru bisa di pakai media ternak cacing.

    Kotak Ternak
    Panjang dan lebar sesuaikan dengan lahan yang di miliki, tidak harus pakai kotak kayu lapis plastic, sebab ternak cacing bisa langsung di hamparkan di lantai semen dengan pembatas tepi hanya menggunakan batu bata, yang penting ketinggian media 15 cm.

    Jika pakai kotak kayu/bamboo yang di lapisi plastik, bisa di buat bertingkat/bertumpuk dengan jarak antar kotak ke atas adalah 10 cm, bisa bertumpuk hingga 8 tumpukan dan panjang lebar kotak sesuaikan dengan lahan yang di punyai sebab ini bukan ukuran kotaj yang mengikat harus seperti itu.

    Perkembangan cacing dalam 35 hari seekor cacing dewasa bisa menghasilkan 5-15 Kokon, yang mana setiap kokon bisa menghasilkan 15 ekor cacing generasi baru.

    Ciri cirri cacing dewasa , panjang lebih dari 5 cm, lambat gerakan, garis kuning bawah perut serta gelang gelang di tubuh berwarna merah menyala. Begitu cepatnya perkembangan cacing dalam 3 bulan populasi cacing bisa 3 X lipat, sehingga pembelian Indukan hanya sekali saja saat pertama kali melakukan ternak cacing , seterusnya kita sudah menghasilkan Indukan sendiri.

    Bahan Pakan Cacing
    Media hidup sebenarnya secara tidak  langsung merupakan bahan pakan bagi cacing, tapi jika di rasa kurang bisa di beri pakan ampas tahu atau blenderan dari daun semacam sawi hijau atau putih atau semua daun yang bertekstur lembut bisa di berikan.

    Kandang cacing usahakan tertutup,jangan terkena sinar matahari dan lingkungan kandang usahakan lembab dengan di siram air.

    Cara pemberian pakan hamparkan pada permukaan media pada sore hari dan cek di pagi harinya masih apa tidak, jika masih berarti pemberian pakan kemarin sore kelebihan, terus seperti itu hingga ketemu takaran yang pas, sebab pemberian pakan selalu berubah sesuai dengan usia cacing.

    Kascing
    Vermicompos sebutan lain untuk kascing. Tanah yang di beri kascing akan gembur remah, sehingga akar tanaman leluasa mencari sumber hara.

    Kandungan hara dalam kascing :
    Nitrogen : 1,79%
    Fosfat      : 0,85%
    Kalium     : 1,79%
    Karbon    : 27,13%
    Kalsium Lengas : 30,52%
    Rasio Karbon Nitrogen : 15,2%

    Yang sangat di harapkan dari kascing adalah lender air liur dari cacing mengandung hormone pertumbuhan. Nah….tak kasih tahu lagi kan sumber dari hormone alami…? Berperan sebagai hormone pertubuhan dan sebagai antibiotika alami. Bila di larutkan dalam air, air liur ini akan menjadi pupuk cair. Perbandingan 1 lendir air liur : 10 air segar, peram 7 hari sudah jadi.

    Grup facebook : ayam kresing super
    Twitter : @betha_sutrisno
    Blog : bumiternak-betha.blogspot.com
    Email : betha_sutrisno@yahoo.co.id
    HP : 085229779252
    malam jumat dan hari jumat tidak terima sms dan telpon






























    0 Response to "TERNAK BELUT SIDAT CACING DAN PUPUK KASCING"

    Post a Comment